Arena Olahraga Sumatera Barat

CATATAN SEPAKBOLA : Tinggalkan Era OLD, Mampukah Kiper Jaman NOW Semen Padang FC Bersaing?

Liga 2 2018, Semen Padang FC Andalkan Tiga Kiper Muda

PADANG – Semen Padang FC bakal move on dari sosok penjaga gawang era old. Itu selepas angkat kopernya Jandia Eka Putra, kiper utama yang selama ini menjaga benteng terakhir pertahanan Kabau Sirah sejak masih berada di level kedua kompetisi sepakbola nasional, tepatnya Divisi Utama Liga Indonesia masa silam.

Dengan begitu, Ia untuk sementara urung jadi generasi legenda kiper Semen Padang FC (SPFC) yang biasanya menutup karir bersama tim milik perusahaan semen tertua Tanah Air dan Asia Tenggara, PT. Semen Padang.

Sebaliknya, penjaga gawang berusia 30 tahun itu telah resmi pergi dari mess pemain pasca Semen Padang terdegradasi.

Hasil evaluasi menyeluruh tim pelatih dan manajemen, Jandia tidak lagi dipertahankan meski termasuk salah satu dari tiga pemain putera asli daerah Sumatera Barat yang selama ini selalu jadi prioritas komposisi utama tim berjulukan Kabau Sirah.

Pemain berciri khas gondrong itu bahkan sudah meninggalkan Hengki Ardiles dan Rudi, duo lokal yang tersisa dari komposisi pemain SPFC saat pertama kali kembali menjejakan kaki mentas di level atas kompetisi sepakbola nasional, Indonesian Super League (ISL) 2010/11.

Meski banyak penjaga gawang yang datang silih berganti mendampinginya, seperti Samsidar, Fakhrurozi, Rivky Mokodompit dan Muhammad Ridwan hingga Liga 1 Indonesia 2017, Jandia mayoritas selalu menjadi andalan dibawah mistar.

Hanya saja, nasib tragis SPFC turun kasta seperti menyudahi titian karir panjang sembilan tahunnya di penghujung November 2017.

Walau tersisa tiga bulan kontraknya hingga Februari 2018, manajemen mengambil keputusan diluar dugaan dengan cepat mengakhiri kebersamaan Jandia sehingga hilang dari list pemain SPFC Piala Walikota Padang, awal Desember 2017 lalu.

Usai sudah cerita penuh warna baginya sebagai penghuni garis akhir pertahanan SPFC. Direkrut dari PSP Padang, Jandia manggung perdana pada kompetisi Divisi Utama 2009/10.

Bak menikam jejak, nasibnya sementara tutup buku tatkala SPFC terdepak ke Liga 2. Pangkal bala yang nan sekaligus menghentikan lembaran demi lembaran catatan euforianya.

Terlibat membawa Semen Padang promosi ke ISL 2010/11 dan langsung menjadi kuda hitam, duduk di peringkat keempat ISL 2010/11, Jandia pun ikut serta menjuarai Indonesia Primer League (IPL) 2012, Delapan Besar Piala AFC 2013, Memuncaki IPL 2013, Runner-up Piala Jenderal Sudirman (PJS) 2015, peringkat 8 Indonesian Soccer Championship (ISC) A 2016 dan semifinalis Piala Presiden 2017.

Cuma ada yang berbeda dengan jejak eks. kiper Semen Padang sebelumnya. Kisah Jandia belum sempat dikatakan sebagai legenda klub kebanggaan Ranah Minang.

Layaknya Zalfi generasi pertama kiper PS. Semen Padang era Galatama, kompetisi semi profesional pertama Indonesia, kemudian dinapaktilasi oleh Trisno Affandi, Subandio dan Zulkarnain Zakaria yang bisa gantung sarung tangan bersama klub berkostum kebesaran merah-merah-merah itu lantas diganjar sebagai karyawan PT. Semen Padang. Sementara Jandia angkat sauh cari pelabuhan baru. Namun, apresiasi tinggi wajar diberikan kepadanya. Sejarah perjalanan SPFC tertoreh nama eks. kiper Timnas itu. .

Inikah pertanda era kiper jaman now pemegang Piala Liga Indonesia 1992 bakal dimulai?

Agaknya benar, dibawah kepemimpinan pelatih kepala Syafrianto Rusli nan masih memegang kemudi SPFC, kerangka tim pun dirancang ulang. .

Pelatih kiper Zulkarnain Zakaria diserahi lagi tanggung jawab guna mengasah ketangguhan, kecakapan generasi baru pengawal jala SPFC. .

SIAPA SAJA MEREKA?

Sesaat lupakan Jandia, manajemen juga enggan pertahankan Muhammad Ridwan. Benteng tersisa adalah kiper muda berusia 20 tahun Rendy.

RENDY OSCARIO SROYER, kelahiran Oktober 1998. Dirinya dijatah ke tim senior SPFC pada ajang ISC A. Tapi, Rendy lebih sering menjadi kiper ketiga. Pemuda bertinggi 180 cm ini berstatus magang. Tugas utamanya lebih banyak mengawal gawang di tim Semen Padang U-21, berkompetisi untuk ISC A U-21 2016.

Namun, perjalanan dengan tim senior masih berlanjut dimusim 2017. Selaku salah seorang pemain yang wajib terdaftar berdasarkan regulasi kompetisi, pasal penggunaan pemain U-23 tahun, Rendy mendapatkan panggungnya di Liga 1 2017.

Pemain asal Biak yang merantau dari kampung halaman demi karir sepakbola ke Kota Padang, sejatinya murni binaan Akademi Semen Padang sejak berusia 15 tahun.

Lulusan SMA Semen Padang ini mengoleksi menit bermain dari kick-off dalam tiga partai terakhir yang dilakoni SPFC.

Cenderung jadi pelapis Jandia yang terkena cedera atau gantikan M. Ridwan yang inkosisten. Total 7 caps bersama tim senior dikantongi Rendy sepanjang gelaran Liga 1 2017.

Dapat kepercayaan dan pengalaman bermain di tim senior membuatnyadianggap punya prospek cerah. Setidaknya penilaian manajemen dan tim pelatih, Rendy pantas dipertahankan.

Agar potensinya tergali semakin mumpuni. Manajemen dan tim pelatih berkesimpulan mencarikan pendamping dengan merekrut dua kompetitor, yaitu Mukhti Alhaq dan Achmad Iqbal Bachtiar.

MUKHTI ALHAQ bukanlah nama baru ditubuh SPFC. Pemuda kelahiran Maret 1994, merupakan putra daerah Sumatera Barat asal Kabupaten Limapuluh Kota.

Ditemukan dalam sesi pencarian talenta lokal di turnamen U-21 Semen Padang Cup 2013 antar klub se-Sumatera Barat yang diusung manajemen klub yang dipayungi PT. Kabau Sirah Semen Padang (KSSP). Pemuda lajang asal jorong (setingkat desa) Koto Tangah, Batu Hampa itu merangsek ke pentas si kulit bundar Ranah Minang terjaring masuk skuad SPFC U-21.

Bergantian dengan Rully Desrian, (eks Timnas U-19 2012-2013) dan Rahmanuddin, yang kini membela klub daerah asal Persiraja Banda Aceh, Mukhti merasakan prestasi juara ISL U-21 2014 bersama rekan-rekan seperjuangan diantaranya Finno Andrianas, Mardiono, Leo Guntara, Arif Yanggi Rahman, Gitra Yudha Furton, Ahmad Taufik, M. Gugum Gumilar dan lain-lain.

Tahun 2015, Mukhti setia menjadi bagian tim SPFC U-21. Sayang, kisruh antara PSSI dengan Kementerian Pemuda Olah Raga (Kemenpora) RI berbuntut terhentinya seluruh tingkatan kompetisi resmi nasional karena sanksi FIFA.

Dua tahun lamanya, pria bertinggi 180 cm ini merantau ke tim-tim luar Sumbar. Menimba jam terbang dan pengalaman berharga selaku penjaga gawang Persilat Lampung di Liga Nusantara 2016 dan Persibas Banyumas Liga 2 2017.

Akhir November, dirinya dipanggil pulang. Klub asal bersiap mengikuti Piala Walikota Padang. Hingga kini, ia bertahan dan disodori ikatan prakontrak. Mukhti mengaku siap terus unjuk kepantutan dan bersinergi bersama Rendy maupun Iqbal.

ACHMAD IQBAL BACHTIAR, begitu nama lengkap pemuda asal Surabaya kelahiran 2 Mei 1998. Ia diminta langsung tim pelatih SPFC datang ke markas klub.

Iqbal Bachtiar saat membela Madura FC

Rekan seangkatan Samuel Christianson (Timnas U-19/Sriwijaya FC), Dandi Maulana Abdulhak (Barito Putra), Reva Adi Utama (PSM Makassar), Doddy Al Fayed (Borneo FC) dan Asnawi Mangkualam Bahar (Timnas U-19/PSM) di Timnas U-16 Kualifikasi Piala Asia 2013 ini sejatinya nyaris berkostum SPFC U-21 pada awal tahun 2017.

Tetapi kandas karena perubahan regulasi kompetisi dari PSSI yang memutuskan mulai tahun 2017 itu meniadakan ajang kompetisi U-21 tapi menggantinya dengan Liga 1 U-19.

Iqbal pun direkrut Madura FC. Selalu menjadi starter, tapi Madura FC gagal lolos 8 Besar Liga 2, terhenti di fase Babak 16 Besar.

Kembali menghuni mess pemain SPFC, Iqbal menyebut seperti pulang ke rumah. Namun kali ini mendapat kesempatan naik ke tim senior.

MAMPUKAH MEREKA?

Skuad sementara SPFC telah memilih Rendy, Mukhti dan Iqbal sebagai tiga kiper dalam barisan komposisi pemain kerangka awal tim SPFC jelang menjalani Liga 2 2018, yang rencana berputar pada Maret.

Tidak ada nama mentereng, serupa jaman lampau yang merekrut dua penjaga gawang senior Almarhum Ahmad Kurniawan dan Almarhum Ngadiono selaku mentor bagi Jandia muda (22 tahun) era SPFC Divisi Utama LI 2009.

Dalam sebuah kesempatan sesi latihan SPFC, pekan pertama Januari 2018, Syafrianto Rusli menyakini tiga kiper pilihannya punya potensi dan prospek bagus dalam mengusung misi besar naik kembali ke Liga 1.

“Ketiganya selama menjalani program latihan persiapan umum sama-sama punya kemampuan yang bagus. Insya Allah mereka bisa bersaing. Kita harus berani memberikan kepercayaan kepada pemain muda,” sebut pelatih yang sukses memunculkan sejumlah pemain muda ketika membawa Sumbar menjuarai cabang olahraga sepakbola PORWIL Sumatera 2003 di Lampung dan semifinalis PON 2004.Palembang.

Komentar

Komentar

Berita Terkait